3

Memahami Apa yang Diinginkan Siswa

Sering saya greget sama siswa yang sebenarnya mereka mampu memahami dengan lebih cepat, menyelesaikan soal matematika dengan tepat, namun mereka memilih jalan yang lambat, karena keadaan mereka, karena fasilitas yang mereka rasa tak cukup, mereka terpaku dengan angka-angka yang sebenarnya hanya bayangan dan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu mereka pikirkan.

Pada semester ini, saya mencoba menjadi guru yang lebih baik lagi. Saya mencoba menyusun pembelajaran yang lebih bermakna. Saya mengira ini lebih baik sampai saya melalui minggu pertama sekolah di tahun ajaran ini, 2019-2020.

Tahun ajaran sebelumnya saya menyadari bahwa saya lebih banyak memberi kepada siswa, yang berakhir pada siswa terpaku pada cara yang saya berikan. Benar-benar bukan apa yang saya ekspektasikan. Saya ingin siswa saya menjadi pelajar yang kreatif, yang bisa mengembangkan potensinya sendiri, maka dari itu saya memberikan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dapat membuat mereka mengembangkan potensi mereka. Mereka menemukan sendiri konsepnya sambil saya bimbing agar tetap dalam aturan matematika. Kemudian mencoba latihan soal sambil berdiskusi dengan teman-temannya.

Sepertinya kita harus peka terhadap jenis siswa yang kita hadapi. Apakah mereka lebih cenderung menyukai model pembelajaran yang mereka mengeksplor sendiri secara 70% atau 50% atau 25%? Minggu pertama saya mendorong mereka untuk mengekspolor sendiri sekitar 70%. Agar mereka mengoptimalkan kompetensi mereka.

Saya pikir saya bisa mengajak mereka berlari, mengeksplor matematika lebih mendalam dengan mandiri. Sering saya greget sama siswa yang sebenarnya mereka mampu memahami dengan lebih cepat, menyelesaikan soal matematika dengan tepat, namun mereka memilih jalan yang lambat, karena keadaan mereka, karena fasilitas yang mereka rasa tak cukup, mereka terpaku dengan angka-angka yang sebenarnya hanya bayangan dan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu mereka pikirkan.

Saya ingin mendobrak stigma mereka sendiri bahwa hal yang mereka anggap sulit dan tidak bisa itu sebenarnya mereka mampu, jika mereka mau lebih berusaha, lebih sabar dalam belajar, mau menghabiskan waktu yang lebih untuk bisa memahami. Mengapa harus terpaku sama keadaan jika kita sebenarnya bisa mengabaikannya dan fokus terhadap belajar?

Ternyata tidak. Mungkin sepertinya saya harus memahami apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh siswa. Model pembelajaran harus disesuaikan oleh materi dan jenis siswanya. Apakah mereka mampu diajak untuk mengeksplor secara mandiri konsep matematika tertentu? Jika mereka mampu, apakah mereka mau? Seberapa besar bantuan guru selama proses pembelajaran? 100%? 75%? 50%? 25%?

Mungkin saja mereka mau, tapi cara saya yang salah. Guru tetap harus jadi fasilitator bagi anak-anak. Minggu depan saya harus mencoba model pembelajaran yang baru agar apa yang dianggap sulit oleh siswa dapat terlihat mudah . Saya juga harus jadi guru yang lebih sabar.

Semoga minggu depan saya berhasil.

0

Apakah Siswa Indonesia Membaca Buku Teks Mereka?

5 Photos of Super-Organized Notes to Give You Studying Inspo | Her Campus
credit: pinterest.com

Di tengah-tengah menganalisis buku teks, aku berpikir seharusnya jika siswa yang memiliki buku paket membaca buku paket mereka dengan baik, mereka akan mudah memahami materi sebelum kelas dimulai. Apakah siswa Indonesia dibiasakan membaca buku teks sekolah sebelum masuk kelas?, pikirku. Karena buku teks-buku teks yang saya analisis cukup mudah dipahami, bagi saya. Saya belum mencobanya pada siswa pada kelas tersebut. Uji coba terhadap siswa juga diperlukan untuk dianalisis apakah bahasa yang digunakan dalam buku teks cukup mudah dipahami oleh siswa seusia mereka atau tidak.

Kesenjangan dan masalah-masalah yang timbul di dunia pendidikan tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tanggung jawab semua kalangan masyarakat. Tidak hanya guru yang harus berusaha sekuat tenaga agar semua siswa dapat memiliki pemahaman yang baik, mengurangi adanya miskonsepsi dalam pembelajaran tertentu, siswa juga harus menyadari bahwa mereka butuh belajar.

Pada jaman sekarang, mereka tidak butuh membeli buku sebenarnya. Banyak buku mata pelajaran yang tersedia secara gratis dalam bentuk elektronik. Hanya butuh sedikit usaha, yaitu: mereka membaca buku teks lewat smartphone mereka. Ini sama halnya dengan permainan, mereka tidak perlu keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman mereka, siswa dapat bermain dengan teman sebaya mereka lewat permainan online seperti PUBG atau Mobile Legends.

Selain itu, apakah mereka tau ada buku sekolah elektronik?

0

Being Good Math Teacher.

In every monday, I teach math in Grade 10th of 2.
Last week, I asked two students went out from my class because they kept talking when I try to explain the material in front of class.
After 5 minutes, they came back, and the female student said sorry to me.

And, today, she is more calm than last week. However, there are some female pupils keep talking when I am writing some math problems in front of class. I try to be more patient today, so I do not reprimand them at first. A few times, some their friends start to warn them to not make noisy. I think it disturbs them.

I keep writing at that time until one of them laugh loudly. Then, I criticize them by, “I feel guilty to your friend whom I asked to go out last week just because she keep talking, and it was a little bit. And all you keep talking and do not feel ashamed at all? Why all you do not feel ashamed to her with your noisy?”

After that they concentrate to do their work.

I know that I am little bit strict teacher. But I believe that doing math needs more attention and concentration. I want them understanding the material, vector, reasoning math, and applying the concept to solve similar problems.