0

Adik Bertanya Tentang Aksi 22 Mei

Adik saya berumur 17 tahun. Laki-laki remaja yang sangat ingin tahu tentang keadaan politik di Indonesia. Ini karena teman-temannya di Pesantren selalu membicarakan hal tersebut. Entah mana yang benar mana yang tidak benar dari kabar-kabar itu.

Aksi 22 Mei menjadi topik pembicaraan saya dan adik saya kemarin di telepon. Dia sering menelpon akhir-akhir ini. Tentang apapun. Yang mengagetkan saya adalah ceritanya tentang teman-temannya yang ke Jakarta dan diijinkan oleh Kyai.

It blew my mind. Tidak pernah ada di pikiran saya ada seorang Kyai yang merestui santrinya keluar pesantren untuk datang ke Jakarta dalam Aksi 22 Mei kemarin. Adik saya diajak tapi tidak mau. Tapi dia masih ingin tau apa yang terjadi pada Aksi 22 Mei. Ini karena di Pesantren tidak ada TV umum yang bisa mereka gunakan untuk memperoleh informasi yang benar. Saya menceritakan apa yang terjadi di tanggal 22 Mei itu dengan keterbatasan saya.

Mendengar dia diajak temannya untuk ikut ke Jakarta membuat saya khawatir luar biasa. Saya juga ceritakan seberapa rusuhnya, hancurnya, dan berantakannya daerah Sabrina dan Sihli, apa dampaknya ke warga yang tidak ikut aksi tapi rumahnya di sekitar Bawaslu. Seberapa menakutkannya Aksi 22 Mei itu. Saya menceritakan dari sudut pandang saya yang sepenuhnya ketakutan dan khawatir luar biasa akan kejadian itu. Meski saya berada di Bandung, saya gelisah karena aksi itu mirip dengan kejadian Mei 98. Saya takut akan separah itu. Saya takut hoaks akan etnis juga ditebarkan pada Aksi 22 Mei. Saya takut akan ada banyak korban jiwa. Saya takut akan banyak hal.

“Adek, kemarin itu banyak mobil warga yang ikut kebakar, bayangin mereka ga punya salah apa-apa, tapi mobil mereka dibakal. Bayangin kalo ada yang demo, terus mobil bapak yang jadi korban. Padahal bapak ga ngapa-ngapain. Kan kasihan.”

“Orang-orang itu ngebakar asrama polisi, ngebakar mobil, ngerusak fasilitas umum, apa dibenarkan di Islam merusak barang orang lain?”

“Mereka juga ambil dagangan orang, apa boleh kayak gitu di Islam?”

Saya mencoba untuk menasehati adik saya agar tidak mudah mengikuti ajakan teman-temannya. Saya mengatakan “Sebelum bertindak, berpikir dulu berulang-ulang, apakah tindakan banyak mudharat-nya atau manfaatnya, apakah tindakan itu bakal bikin Ebok (panggilan untuk Ibu kami) sedih atau tidak, apakah tindakan itu bakal bikin Kakak (panggilan untuk saya) sedih atau tidak, pokoknya berpikir dulu sebelum bertindak, Adek sudah besar, sudah bisa milih yang mana yang sekiranya ga baik, kalo ada kabar apa-apa telpon dulu ke kakak, biar kakak yang meriksain itu hoaks atau nggak.”

Banyak kalimat berawalan dengan “jika” di kepala saya saat ia menelpon. Bagaimana jika adik saya ikut ke Jakarta bersama teman-temannya?
Bagaimana jika adik saya jadi korban?
Suaraku semakin bergetar saat mengobrol dengannya. Yap, saya gampang sekali menangis. Liat ada korban meninggal menangis, liat aparat yang berjuang menangis, liat massa yang dipukuli juga menangis.

Akhirnya saya menyudahi percakapan saya dengan adik saya. Hari kamis minggu depan ia akan pulang dari pesantren. Tidak sabar melihatnya lagi ❤

0

Aksi 22 Mei

Kalo jadi religius membuatmu mudah menghakimi orang lain, kasar, keras dan fitnah. Periksalah! Kamu menyembah Tuhanmu atau egomu?

Omar Imran

Aksi kemarin benar-benar membuat orang lupa bahwa kita sedang berada di Bulan Suci, Bulan Ramadan. Khawatir, sedih, benci, takut, dan segala perasaan negatif muncul di kepala saya. Sebagai muslimah, saya tidak bisa habis pikir bagaimana mereka orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai orang Muslim melakukan hal sebrutal itu di bulan Ramadan. Selupa itu sama Tuhan?

Penelitian saya sempat terhenti ketika selama bulan Maret-April saya lebih tertarik untuk mengulik budaya, politik, sosial, dan sejarah Indonesia di masa lalu. Mulai dari membaca buku karangan Ariel Heryanto berjudul Identitas dan Kenikmatan, menonton video orang-orang yang membicarakan PKI, Kerusuhan 98, dan bagaimana para korban bangkit dari trauma. Memahami politik di Indonesia juga menjadi salah satu usaha untuk memahami bagaimana suatu kebijakan dibuat, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, termasuk dari segi kebijakan dalam sistem pendidikan. Pengaruh politik di Indonesia begitu besar terhadap pembangunan negara ini. Oleh karena itu saya mulai tertarik untuk mencari informasi mengenai politik di Indonesia sejak saat itu.

Aksi 22 Mei 2019 merupakan salah satu efek dari Hasil Pilpres tahun ini. Sebagian besar tergerak akibat kekecewaan terhadap Hasil Pilpres tersebut.

Aksi 22 Mei ini membuat Jakarta rusuh.

7:28 PM 21 Mei 2019 sumber: @akbarry
6:14 AM 22 Mei 2019, sumber: Gofar Hilman

Beberapa kantor diliburkan https://t.co/epz89bRmjL

Pedagang Warung yang Terkena Dampak Penjarahan Ketika Aksi 22 Mei rugi 6 jt atas penjarahan Rokok
Jumlah orang yang meninggal: 6
Ambulan berisi Batu

Aksi ini adalah aksi brutal di Bulan Ramadan. Saya bukan pro kedua kubu, tapi saya memiliki hak untuk tinggal dengan rasa aman di Negeri ini.

Siapa yang menggerakkan masa sebanyak itu? Siapa yang membuat strategi? Jika memang kita berada di Negara Hukum, harusnya terdapat investigasi mengenai aksi 22 Mei bukan hanya berisi perdamaian. Siapa dalangnya? Sebutkan namanya. Harus ada investigasi dan penjelasan yang detail mengenai kejadian ini dari pihak Polri.

Negara harus sadar, di setiap negara/daerah selalu ada pengkhianat yang ingin merusak persatuan negeri untuk meraup keuntungan dan kekuasaan sebesar-besarnya. Negara harus mengakui ada beberapa rakyatnya yang memang menyukai pertikaian, ketidakamanan, dan kerusuhan. Publik berhak tau dan dididik agar kejadian ini tidak terulang kembali, agar rakyat tidak memiliki pemikiran untuk melakukan perbuatan yang sama. Ini momen penting yang bisa diambil agar kita bisa menciptakan perdamaian dan mencegah agar kejadian ini tidak terjadi kembali.

Salam,

Faliqul