Ada Apa dengan Pendidikan di Singapura?

DqJPogTWoAAiUNY

Terjemahan dari: https://wef.ch/2ISnQtA

Hasil PISA 2016 anak-anak Singapura jauh, bahkan terlampau jauh dibandingkan anak-anak seusia mereka di seluruh belahan dunia. Faktor apa yang mempengaruhi hasil PISA di Singapura?

PISA merupakan program penilaian literasi membaca, matematika, dan sains siswa berumur 15 tahun dari hampir seluruh negara di dunia, termasuk Singapura. Biasanya, hasil PISA ini menjadi salah satu bahan pertimbangan evaluasi sistem pendidikan di dunia. Indonesia juga melakukan perubahan kurikulum menjadi kurikulum 2013 karena hasil PISA tahun 2012 (see here).

Singapura awalnya mendorong siswa dengan menggunakan pendekatan pembelajaran hafalan dan belajar dengan waktu yang lama agar siswa dapat lulus ujian. Perubahan di masyarakat membuat negara berpikir kembali mengenai pendekatan tersebut pada bidang pendidikan.

Diskusi, pekerjaan rumah, dan kuis menjadi bahan kinerja siswa sekolah dasar yang akan dinilai. Mulai tahun 2019, ujian untuk siswa kelas 1 dan 2 akan dilarang. Siswa SMP dan SMA akan belajar di lingkungan yang kurang kompetitif. Nilai tiap mata pelajaran akan dibulatkan pada bilangan bulat terdekat -tanpa bilangan desimal- untuk mengurangi penekanan kesuksesan akademik.

Menteri Pendidikan Singapura, Ong Ye Kung, menyatakan bahwa, “Belajar bukan sebuah kompetisi”. Kementerian Pendidikan Singapura sedang merencanakan sejumlah perubahan yang bertujuan untuk mengcegah terjadi perbandingan antara performa murid dan mendorong siswa untuk konsentrasi pada perkembangan belajar mereka sendiri.

Pada akhirnya, buku-buku rapot sekolah dasar dan menengah tidak lagi mengindikasikan apakah seorang murid berada di peringkat atas atau bawah dalam suatu kelas. Ketika mata pelajaran dirata-ratakan, secara umum jumlah nilai minimum dan maksimum diatur agar tidak muncul. Rapot sekolah tidak akan menunjukkan nilai-nilai yang gagal atau lulus pada akhir tahun pembelajaran.

Soft skills 

Perubahan fokus dari hasil ujian yang sempurna ke menciptakan individu menunjukkan arah perubahan yang serius di Singapura. Dengan performa akademik, kebijakan-kebijakan pendidikan yang baru bertujuan untuk mendorong perkembangan sosial antara peserta didik untuk meningkatkan kesadaran diri dan membangun kemampuan membuat keputusan.

Perilaku dan praktik pembelajaran di dalam kelas sedang disesuaikan dengan kebutuhan tempat kerja setempat karena negara tersebut tengah mempersiapkan para siswa untuk bekerja di sektor layanan yang terus berkembang.

Serangkaian program “pembelajaran terapan” dijadwalkan akan diterapkan pada tahun 2023 untuk meningkatkan pengembangan pribadi dan memabntu siswa memperoleh keterampilan dunia nyata. Program ini memungkinkan anak-anak sekolah untuk terjun ke dalam topik-topik ekspresif seperti drama dan olahraga serta lebih banyak ke arena yang berfokus pada industri seperti komputer, robotika, dan elektronik.

Kementerian Pendidikan telah menugaskan  sebuah tim karyawan pembimbing-karir untuk merubah persepsi yang muncul dan mendorong aspirasi siswa untuk bekerja selain di bidang bank, PNS, dan kesehatan.

Menyesuaikan sikap siswa dapat membuktikan tantangan yang lebih mudah daripada mengubah pandangan orang tua siswa di Singapura, yang tumbuh dengan tekanan dan kerasnya ujian. Perlawanan terhadap perubahan tersebut dapat mewakili kabar baik bagi para tutor privat pada negara tersebut.

Satu hal yang tidak berubah adalah sertifikat meninggalkan sekolah dasar, mungkin jika di Indonesia seperti UN untuk anak SD. Ujian ini diambil oleh siswa berumur 11 atau 12 tahun. Ujian yang membuat stres ini telah berjalan sebagai langkah untuk karir tingkat tinggi. Tidak ada rencana untuk mengubah aspek ini pada negara tersebut.

Masa Depan 

Kompetensi yang kita butuhkan ketika bekerja berubah secara cepat.

DgyaX8N4-z7JCfiEgP4m9NYKWJLugED-k7rVbolapWc.png

The World Economic Forum’s Future of Jobs Report 2018 menyarankan bahwa para karyawan akan melihat perubahan skill 42% di dunia kerja antara sekarang dan tahun 2002.

Soft-skills seperti berpikir kritis, kepemimpinan, dan pemecahan masalah kompleks akan penting secara meningkat. Laporan tersebut memperingatkan kita agar kita semua harus menjadi pelajar sepanjang hayat (pekerja membutuhkan pelatihan selama 101 hari atau peningkatan keterampilan hingga tahun 2022).

Negara-negara penunjang ekonomi seperti Singapura menyesuaikan sistem pendidikan mereka untuk tetap menghadapi perubahan-perubahan ini. Kita akan menunggu untuk melihat siapa yang akan menjadi yang teratas di dunia kerja mendatang.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s