Random Post | I’m Being Fanatic Because My Friends

Akhir-akhir ini, banyak yang membicarakan soal Ust Hanan Attaki. Aku taunya beliau Ustad yang ceramahnya sering didenger oleh temen-temenku. Bukan aku. Aku lebih suka ikut pengajian kitab kuning dibandingkan mendengar ceramah. Hehehe. Maapkan saya!

Saya dari pesantren modern yang letaknya di kaki Gunung Welirang, Mojokerto. Meski tidak sampai menjadi orang yang bisa membuat fatwa, aku sedikit tau tentang agama Islam. Ga terlalu banyak. Cukup untuk dipakai sehari-hari pokonya hehe.

Balik ke topik. Jadi lima tahunan ke belakang banyak da’i da’i baru yang muncul, seperti contohnya Ust Hanan Attaki dan Ust Felix Siauw. Awalnya sih saya suka dengan Felix Siauw, bukunya bagus sekali, gampang dipahami, yang judulnya “Putusin Aja”. Kalau Ust Hanan Attaki saya taunya beliau menggunakan bahasa gaul untuk mendekati manusia-manusia milenial. Tapi akhir-akhir ini Ust Hanan kena hujatan karena salah penggunaan katanya terhadap Nabi Musa yang menurut dia itu adalah metode pendekatan untuk manusia-manusia milenial. Padahal, untuk menceritakan sejarah dan ajaran Islam kita tetap harus berhati-hati karena rata-rata rujukannya dari Bahasa Arab. Kita harus berhati-hati dalam mengkomunikasikan dan menceritakannya kembali. Terutama dalam pengambilan kosa kata. Bisa jadi kosa kata non formal yang Ust tsb gunakan menjadi miskonsepsi yang akhirnya berubah arti sejarahnya. Lumayan viral akhir-akhir ini.

Tapi, saya mulai tidak sepaham dengan Felix sejak dia bilang tentang Ibu yang bekerja, intinya sih kata dia apakah masih bisa disebut Ibu. Saya nangis waktu itu. Saya membayangkan Ibu-ibu yang ditinggalkan oleh suaminya sehingga harus bekerja demi bisa menafkahi anak-anaknya, Ibu-ibu janda yang membesarkan anak-anaknya sendirian. Kemudian dia juga berpihak pada Khilafah. Setelah itu saya berpikir, “Baiklah kita tidak sepaham tentang Islam.” Ketika itu, tempatku menimba ilmu perkuliahan, banyak yang pro dengan sistem Khilafah ini. Aku, ketika itu sangat remaja, memilih untuk menutup diri dari segala kajian islam.

Menurutku, ajaran Islam disekelilingku tidak sepaham dengan apa yang aku percayai selama ini. Aku memilih untuk tidak berbicara mengenai agama meskipun banyak orang yang tau aku dari pesantren kala itu. Mengapa aku memilih diam? Aku tidak hafal referensi-referensi yang aku terapkan sehari-hari! Banyak sekali aku baca postingan-postingan teman-temanku balik ke Alquran dan Hadits. Padahal Alquran dan Hadits itu terlalu abstrak menurutku. Tidak bisa semerta-merta diartikan secara bahasa Indonesia yang memiliki kosakata terbatas untuk mencerminkan kalimat dalam bahasa Arab. Bahkan ada yang mengartikan Alquran langsung dengan tafsirnya sendiri. “Sehebat apa dirimu?” batinku.

Dalam matematika saja, ada bagian analisisnya untuk suatu teorema tertentu dan membutuhkan waktu yang lama. Membutuhkan beberapa teori juga untuk memahami suatu teorema. Lalu, Kenapa orang-orang ini dengan gampangnya menganalisis isi Alquran jika rujukannya yaitu hanya ‘teorema’ atau Alquran itu sendiri?? Apakah mereka menganut semacam pemahaman “Kebenaran hanya pada diriku”?

Disamping itu, ketika S1 aku menolak mengikuti organisasi Islam tertentu, meski ada yang dari satu golongan dari pesantrenku. Tapi banyaknya orang-orang yang masuk organisasi Islam itu cenderung fanatik. Aku tidak suka menjadi fanatik. Sama sekali tidak suka. Hal itu membuat seseorang menganggap golongannya dia sendiri yang benar. Yang lain tidak. Akui saja!

Aku sangat menghargai perbedaan pendapat, bahkan aku bertanya kepada orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda denganku mengenai fiqh atau ajaran Islam lain. Hanya ingin tau referensi apa yang digunakan untuk berpendapat seperti itu. Hanya ingin tau saja agar dapat saling menghargai. Maka dari itu, aku sering membaca suatu artikel dari penulis yang tidak suka dengan yang suka pada suatu hal. Hehehe

Akan tetapi, makin lama, aku makin kenal banyak orang baru yang fanatik terhadap golongannya. Merasa paling benar. Padahal kebenaran paling mutlak hanya milik Allah. Aku semakin panas dengan teman-teman yang aku kenal saat ini. Mereka semakin fanatik terhadap golongannya sendiri, sampai-sampai ada yang menulis ‘goblok’ yang ditujukan pada golongan yang bertentangan dengan pendapatnya. Aku tidak tahan.

Setelah berpikir rada lama, aku beneran berpikir rada lama tentang hal ini. Aku pikir menghargai pendapat mereka saja tidak cukup, aku perlu menunjukkan ajaran Islam yang aku anut juga. Aku harus berani menunjukkan juga pendapatku tentang apa yang aku pahami tentang Islam. Selama ini aku menghindar hanya untuk menciptakan perdamaian dalam diriku sendiri juga lingkungan sosialku. Padahal sebenarnya, diskusi sampe nggerutu juga gapapa sekali-kali. Hahahaha.

Aku ikut-ikutan menjadi fanatik seperti mereka. Fanatik terhadap golongan Islam yang dianut oleh pesantrenku dulu. Salah satu alasannya adalah, rujukan mereka tentang suatu kajian sebanyak pendapatnya. Seimbang. Aku suka hal-hal berbau akademis, yang rujukannya jelas, pengarangnya siapa. Alquran dan Hadits memang rujukan utama. Tapi untuk memahami rujukan utama, kita perlu buku-buku dan rujukan-rujukan lain, kan? Kalian pahamlah kalo udah skripsian. (sarcastic, hahaha)

Nah mungkin salah satu kenapa aku jarang dengerin video-video ceramah di IG itu adalah banyak yang lebih menggunakan pendapatnya dibandingkan rujukan-rujukan yang ia gunakan. Biasalah, anak akademisi emang suka nanyain referensinya ye kan?. Akhirnya aku lebih suka baca thread dari twitter yang biasanya para ustadz dan kiyai lebih banyak menyampaikan ceramahnya disana. Mereka juga menyebutkan kitab-kitab yang dijadikan referensi. Sesuai seleraku banget.

Perbedaan pendapat itu biasa kan ya? Aku juga tau itu dan sangat menghargai perbedaan pendapat. Tapi kalau sampai menghardik, mencaci, dan mengejek orang yang aku tau dia lebih banyak memiliki Ilmu dibandingkan orang yang menghardiknya, rasanya udah kayak hatimu dicabik-cabik. Maksudku, “Sehebat apa? Sehebat apa anda? Bukannya anda baru belajar?” pikirku begitu. Aku ikut-ikutan panas kan jadinya.

I’ll be okay if we have different opinions, as long as we can appreciate every opinions.

But if other say bad things to people I know they have a lot of knowledge, like a Master, How could I can stand and act nothing happen?

Good Afternoon,

Writer.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s