Kuliah Landasan Pedagogik dengan Prof Uman

Banyak hal yang terjadi pada hari Jumat kemarin itu. Pukul 13.00 saya harus ke tempat Bimbel untuk mengikuti UKG (Ujian Kompetensi Guru) hingga pukul 14.36. Kemudian saya langsung meluncur ke Kampus UPI tercinta, tepatnya di FPMIPA-B ruang B108.

Saya sampai di depan ruangan pukul 15.06, dimana Bapak sudah duduk manis sambil mengabsen mahasiswa. Deg-degan takut dimarahi segala macem, takut diusir, takut ga boleh masuk kuliah beliau lagi 😥

Ditambah lagi posisi pintu masuk sekaligus pintu keluar itu berada di bagian depan kelas.  :’)

Saya mencoba berkomunikasi dengan teman yang paling dekat dengan pintu. Aku masih boleh masuk ga? tanyaku. Mereka memberi syarat dengan menggerakkan tangan mereka agar aku masuk.

Akhirnya aku masuk ke dalam ruangan sambil menyapa Bapak. Untungnya, masih ada kursi kosong :’)

Aku duduk sambil menunggu namaku dipanggil. Setelah itu, Bapak memberikan banyak pesan moral. Seperti sikap, pengetahuan, pola pikir, dan perbuatan harus linier harus linier.

Contohnya, Kiai, kiai itu adalah contoh seorang manusia yang pengetahuan, sikap, dan perbuatannya linier. Linier itu tidak melulu soal pengetahuan.

Peraturan bahwa untuk menjadi Dosen itu harus linier, tidak hanya berlaku pengetahuannya harus mendalam. Tapi perbuatan, sikap, dan pengetahuannya harus linier juga. Yang membedakan orang yang bergelar dan tidak bergelar pendidikan adalah pola pikirnya.

“Jangan mengatakan apa yang tidak kamu lakukan. ” kata Bapak seperti itu.

Selain itu, Guru atau Doesen juga harus memperhatikan penampilan. Cara berpakaian misalnya. Ketika Bapak menyinggung tentang pakaian, Bapak mengomentari teman sebelahku, “Kayak dia, kerudung coklat tua dengan (baju) coklat muda. Kalo kamu (mengarah ke aku), emang cocok kerudung abu-abu sama baju putih biru?”

“Iya Pak? Cocok cocok aja Pak.” sambil cengar cengir. Bapak, saya memang orangnya ngasal kalo milih baju. Namun sejak menjadi Guru, saya sudah dan sedang berusaha mencocokkan warna baju-kerudung-dan rok saya setia pergi ke sekolah. 🙂

Salah satu hal yang sangat saya sukai dengan Pak Uman adalah Bapak orangnya humoris sekali. Selalu ada saja celoteh celoteh humoris yang bapak sampaikan sehingga audiens selalu antusias menjadi pendengar beliau.

Kata Bapak, kita tetap harus memperhatikan siapa pendengar kita. Bedakan bentuk humor saat kepada Mahasiswa S2 dan kepada Dosen atau Kyai. Karena apa yang kita ucapkan mencerminkan pengetahuan dan pola pikir kita. Bahkan menurutku, apa yang kita ucapkan akan membawa nama baik kita sendiri.

Terkadang, Baiknya kita di depan orang akan membawa banyak nama. Nama tempat kita belajar, nama guru kita, dan nama orang tua kita. Dan berlaku juga sebaliknya.

Banyak hal yang diperoleh ketika kuliah dengan Bapak. Kuliah dengan beliau tidak hanya belajar bagaimana menjadi guru atau dosen yang baik, melainkan juga bagaimana menjadi manusia yang berperilaku manusiawi.

Terima kasih, Pak. Semoga Bapak dan Keluarga sehat selalu. Amiiin. ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s