Dari Guru Matematika untuk Anak SMA di Indonesia : Belajar yang Efektif

Saya adalah guru matematika SMA yang baru saja lulus tahun lalu dari tingkat Strata 1. Saya percaya bahwa remaja Indonesia sangat tidak bisa lepas dengan smartphonenya. Pada bulan pertama saya mengajar, saya menggunakan beberapa peraturan teman saya, yang lebih dulu menghadapi anak-anak SMA di Kota Bandung ini, dalam penggunaan telepon pintar ini. Saya memperbolehkan anak menggunakan hp mereka selama di dalam kelas hanya untuk mendengarkan musik dan kalkulator. Jika ada yang menggunakan hp dalam kelas selain itu, saya akan mengambilnya dan diserahkan pada wali kelas mereka. Mengapa saya meggunakan peraturan keras dalam penggunaan hp? Agar mereka bisa lebih konsentrasi selama pelajaran dan mengetahui saya berusaha keras untuk membuat mereka memahami dengan pelajaran yang hampir semua murid mengatakan ini susah!

Selain menjadi Guru Matematika di sekolah, saya juga merupakan guru di suatu bimbel dan guru privat. Selama saya menjadi guru di luar sekolah itu, banyak sekali murid berkeluh kesah tentang gurunya di sekolah. Beberapa tipe guru yang disebutkan oleh anak-anak yang les atau privat adalah sebagai berikut:

  1. Guru tidak menjelaskan, beliau hanya menyuruh kita menyelesaikan soal. Kemudian pergi entah kemana.
  2. Guru menjelaskan tapi dia tidak bisa membuat kita paham. Dia berbicara memutar-mutar.
  3. Soal yang diberikan adalah soal yang tidak sama dengan yang dijelaskan (contoh).
  4. Guru terlalu banyak memberikan tugas kepada kami.

Beberapa letak permasalahan anak-anak yang mengikuti kelas tambahan di luar jam sekolah adalah pada anak-anak tersebut.

  1. Anak-anak tersebut tidak konsentrasi di dalam kelas. Dia sibuk memainkan smartphonenya.
  2. Anak-anak tersebut suka mengobrol dengan temannya dibandingkan mendengarkan guru yang sedang menjelaskan di depan kelas.
  3. Mereka tidak peduli dengan apapun.

Setelah saya melakukan pengamatan tidak formal ini, saya membuat kesimpulan bahwa:

Cara belajar matematika di sekolah yang efektif adalah siswa harus dalam keadaan fokus ketika di dalam kelas. Guru juga harus tetap mengawasi apakah setiap kepala di dalam kelas dalam keadaan fokus atau tidak.

Jadi bagi kalian para pelajar, cobalah untuk konsentrasi penuh minimal selama setengah jam di dalam kelas, terutama ketika guru menjelaskan. Hpmu tak kan membantumu konsentrasi. Matikan hpmu sebentar. Jika perlu, ajak temanmu ikut berkonsentrasi dalam pelajaran. Jika tidak mengerti, bertanya! Tak perlu takut. Kalian murid yang punya hak untuk minta ilmu pada guru kalian! Manfaatkan guru di sekolah selama kalian bertemu dengan mereka!

Hal itu akan lebih baik dibandingkan kalian harus belajar lagi di kelas tambahan di luar jam sekolah, itu akan membuang-buang uang dan waktu luang kalian bersama teman-teman. Kalian pasti pengen maen sama temen-temen kalian kan? Jadi cobalah lebih fokus dan konsentrasi ketika belajar di dalam kelas.

Buatlah mindset seperti ini: Aku murid. Aku harus paham ilmu yg diajarkan di dalam kelas. Aku ga mau les. Aku pengen jalan-jalan sehabis sekolah sama temen-temen. Jadi aku harus bener-bener paham apa yg diajarin di sekolah supaya mama sama papa ga nyuruh aku les matematika. 

Jika kamu tidak suka belajar matematika, ingatlah akan hal bahwa: Kalo kamu ingin kuliah, ada tes masuk universitas berupa tes matematika.

Jadi mau tidak mau, kamu harus mempelajarinya.

Cara ini saya gunakan ketika menjadi murid akselerasi ketika saya SMP dan SMA. Beberapa teman saya juga melakukan hal ini, “memanfaatkan guru di sekolah”. Solusi jika 75% siswa sudah dalam keadaan tidak konsentrasi, guru akan memberikan waktu untuk siswa agar tidur atau istirahat di dalam kelas selama 10-15 menit. Cara ini cukup efektif untuk membuat kami “para murid” untuk kembali konsentrasi dalam pelajaran setelah istirahat tersebut.

Ternyata cara ini juga digunakan oleh Finlandia. Sekolah Finlandia, khususnya pada pendidikan dasar, memberikan istirahat 15 menit setiap 1 jam pertemuan atau 45 menit. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menyegarkan otak setelah 45 menit menerima pelajaran. Adanya istirahat berkali-kali dalam sehari membuat anak tampak lebih fokus dalam menerima pelajaran dan membuat hasil belajar mereka lebih baik. (Tim Walker, 2017)

Saya belum menerapkan istirahat “berkali-kali” ini dalam pelajaran saya. karena, sebelum menerapkan model ini. Saya harus memahami apakah ini akan cocok dengan sifat peserta didik saya di sekolah? Apakah ini akan efektif? Oleh karena itu, saya masih mempelajari dan membaca beberapa referensi serta mengamati tingkah laku peserta didik saya apakah istirahat di antara satu kali tatap muka akan efektif di kelas sekolah negeri yang rata-rata jumlah muridnya 30-35 dalam sekelas.

Mungkin pada bulan kedua saya akan mencoba metode “istirahat berkala” ini pada kelas saya. Lalu saya akan mengulas dan menulis hasil pengamatan saya di Blog ini.

Referensi
Walker, T.D. 2017. Mengajar seperti Findandia: 33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan. Jakarta: Gramedia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s