Bandung: KOSANKECE dengan Kesabarannya

Hari ini aku melangkahkan kaki pergi dari Bandung. Siap tidak siap aku harus melanjutkan kehidupan selanjutnya. Kenapa aku harus pergi padahal Bandung benar-benar nyaman?? Pemandangan gunung di tengah kota, kota fashion, kuliner, dan banyak lagi. Orang-orang bandung yang selalu haus dengan ide. Selalu ada saja bentuk wirausaha unik yang diciptakan oleh orang Bandung. Beberapa orang yang telah lulus S-1 (Strata 1) memilih untuk tetap tinggal, bekerja di Bandung ataupun melanjutkan S2. Beberapa memilih untuk pindah ke kota lain, entah karena ditugaskan ataupun memang dia memilih untuk mencari kehidupan yang lebih baik disana. Beberapa memilih kembali ke kota masing-masing. Bukan hal yang asing jika dalam satu universitas lebih banyak orang dari luar kota. Aku termasuk orang yang memilih kembali ke kota asalku. Biasanya, orang perantau pantang pulang sebelum sukses, aku ingin menjadi salah satu orang yang memiliki prinsip seperti itu. Namun, aku memiliki kewajiban untuk mengabdi di Pesantren tempatku menimba ilmu dulu.

Apa yang kamu tinggalkan saat perpisahan? Saudara-saudaraku. Begini, aku mulai kuliah pada saat berumur 16 tahun dengan teman-teman seangkatan berumur 18-19 tahun. Aku benar-benar seperti anak kecil. Egois, berbicara semaunya, bertingkah semaunya. Beruntung sekali aku bertemu dengan 18 perempuan tangguh yang tidak segan segan menegurku, menasehatiku, mendengarkan celotehanku, memberikan solusi setiap aku bingung dalam membuat keputusan. Suro, Rina, Fitri, Tiara, Titin, Mbakmay, Tika, Sherli, Lina, Dila, Lia, Ida, Tean, Ela, Sari, Naila, dan Maryam.  Kami dipertemukan oleh Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama. Selama 4 tahun aku bersama mereka. Selama ada di Bandung.  Mereka saudara-saudaraku. Semuanya merantau ke Bandung. Mereka dengan sabarnya mendengar ceritaku yang tak akan selesai jika tidak diingatkan kalau ceritanya sudah terlalu lama.

Jika ada orang yang masih sering menasehatimu dan memberimu teguran, bersyukurlah. Karena semakin umurmu bertambah, semakin sedikit orang-orang yang masih mau meluangkan waktu untuk menasehati maupun menegurmu.

Aku banyak belajar pada mereka. Bahwa menjadi dewasa itu harus bisa membuat keputusan sendiri, menahan diri meskipun merasa bisa, menerima pendapat orang lain. Beberapa hari ini aku selalu mengatakan pada mereka.”Nanti Aku bagaimana tanpa kalian? Siapa yang akan mendengarku nanti? Nanti aku curhat sama siapa? bertanya pada  siapa?”

“Nanti kamu bisa sendiri, harus bisa sendiri, kan nanti kita hidup masing-masing.” kata Rina. “Iya, An.” timpal Suro. “Nanti harus bisa hidup sendiri, An. Jangan bergantung sama orang lain, jangan terlalu terbuka sama orang lain.” kata Tiara dan banyak lagi.

Sekarang sudah sarjana, sudah waktunya untuk melanjutkan ke fase kehidupan selanjutnya. Sudah waktunya untuk menghadapi kehidupan dengan lebih serius. Ganbatte kudasai!

Kereta tetap melaju ke Surabaya.

Sekarang sudah di Banjar, teman.

Kereta tak akan pernah memikirkan isi hati penumpang.

Dia akan tetap melaju sampai tujuan.

Sampai jumpa lagi, teman.

Aku tunggu kabar baik dari kalian.

Iklan

3 respons untuk ‘Bandung: KOSANKECE dengan Kesabarannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s