Otak Laki-laki dan Perempuan (1)

Banyak perempuan yang mengatakan bahwa laki-laki itu tidak peka, tidak perhatian, tidak dapat memahami maksud perempuan. Saya pun sebagai perempuan juga sering berpendapat demikian. Namun, setelah membaca buku Female Brain karya Louann Brizendine, ternyata sejak kandungan pun otak laki-laki dan perempuan memang berbeda.

Perbedaan mereka mulai tampak saat mereka berumur 3-5 tahun. Pada masa ini, anak perempuan dan laki-laki dalam masa aktif-aktifnya. Anak perempuan lebih mudah diatur dibandingkan anak laki-laki. Anak perempuan cenderung lebih penurut. Hal ini disebabkan karena ekspresi emosi. Sejak lahir, anak perempuan sudah berminat pada ekspresi emosi. Mereka mendapat makna dari mereka berdasarkan tatapan, sentuhan, dan setiap reaksi dari orang-orang yang melakukan kontak dengan mereka. Anak perempuan dan laki-laki dapat merasakan kebahagiaan yang dialami oleh orang-orang disekitarnya, namun anak perempuan dapat merasakan kesedihan atau kegelisahan orang-orang disekitarnya lebih cepat daripada laki-laki. Mungkin hal ini yang seringkali kita sebut laki-laki itu tidak peka.

Kadar estrogen dalam otak para gadis perempuan membuat mereka lebih banyak bicara, lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya, lebih sering memikirkan anak laki-laki, lebih mencemaskan penampilan, lebih stres, dan lebih menunjukkan emosi secara berlebihan. Mengapa anak laki-laki yang sebelumnya komunikatif menjadi begitu pendiam ketika mereka mencapai usia remaja? Hal ini dikarenakan oleh gelombang testosteron dari testikel yang berada pada otak laki-laki. Testosteron terbukti dapat mengurangi minat bicara dan juga minat bersosialisasi, kecuali kalau mencakup olahraga dan perburuan seksual. Seluruh pikiran remaja laki-laki seringkali dipenuhi fantasi-fantasi seksual, bagian-bagian tubuh gadis, dan kebutuhan untuk bermasturbasi.

Otak perempuan memiliki reaksi kewaspadaan yang jauh lebih negatif terhadap konfllik dan stres dalam suatu hubungan dibandingkan dengan otak laki-laki. Laki-laki sering kali menikmati konflik dan persaingan.  Mereka bahkan mendapatkan dorongan positif dari konflik. Pada perempuan, konflik dapat memicu serangkaian reaksi hormon negatif yang menimbulkan stres serta rasa gelisah dan takut. Pikiran tentang kemungkinan muncunya konflik akan dibaca oleh otak perempuan sebagai suatu yang mengancam hubunga. Pikiran ini juga menimbulkan kekhawatiran nyata bahwa percakapan beriktunya dengan temannya akan menjadi percakapan terakhir.

 

Iklan

Satu respons untuk “Otak Laki-laki dan Perempuan (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s