Dewasa

Hai Ibu. Aku ingin bicara. Aku ingin pindah. Aku sudah memikirkannya secara matang. Entah ini akan ibu sebut pemikiran anak-anak, seorang remaja yang menuju dewasa, atau seseorang yang dewasa. Tetapi, sepertinya pilihan terakhir itu mustahil. Aku sendiri tidak bisa mengatakan bahwa aku sudah dewasa. Namun, Ibu, aku harap Ibu selalu bisa mengerti aku, termasuk keputusan sekarang. Aku ingin pindah dari kosan ini. Kosan ini terlalu berisik bagiku. Berisik dari orang-orang yang merasa tetuah disini, orang-orang yang merasa dewasa disini. Mereka yang selalu meminta perbuatan baik mereka untuk orang banyak, dikembalikan. Mereka yang selalu mengira aku masih kecil. Sekaligus mereka yang selalu memaksaku untuk bertingkah dewasa. Ibu, aku tahu, sebelum aku kembali kesini, Ibu menasehati, agar aku juga bisa bertingkah dewasa seperti mereka. Dewasa seperti apa yang Ibu maksudkan? Yang kutahu dewasa itu sabar, lebih banyak mendengarkan, pemikirannya panjang, dan peka terhadap sekitar. Ibu, orang-orang disini sudah aku anggap dewasa, dan mereka juga sama-sama belajar sepertiku tentang psikologi anak, Ibu. Tentang cara menyikapi anak yang masih bertingkah anak kecil seperti diriku untuk tidak meneriakinya “Jangan bertingkah seperti anak kecil.” Ibu, aku juga tahu, aku juga mempelajari bahwa, umurku ini umur pencarian jati diri. Umur 17 tahun cukup mengerikan bagiku, Ibu. Orang-orang disekitarku menuntutku secara berlebihan. Semoga ini hanya pemikiranku saja, Ibu. Mereka menuntutku untuk berpikir seperti mereka, sedangkan aku berpikir masih berpikir sesuai dengan kelogikaanku saja, aku masih egois. Aku sadar itu. Mereka menginginkan aku untuk jangan melakukan ini, jangan melakukan itu. Mungkin itu baik bagiku, Ibu. Tetapi aku belum benar-benar paham. Seharusnya aku tak perlu menunggu aku paham untuk mengerjakan itu semua. Namun aku ingin mengerti. Aku belum seluas mereka cara berpikirnya, tetapi mereka ingin aku berpikir seperti mereka, dilain sisi mereka selalu menganggapku anak kecil dan selalu kecil, tidak tahu apa-apa, tidak sepemikiran dengan mereka. Aku ingin pindah, karena aku ingin dewasa seperti mereka, sepemikiran dengan mereka meskipun umurku masih dibilang remaja akhir. Tahu, Ibu? Sebutan anak kecil yang mereka buat itu bukan alasanku untuk memilih bertingkah laku seperti anak kecil. Hanya saja, aku bingung. Terkadang mereka menginginkan aku sepemikiran dengan mereka, dilain sisi mereka menyebutku anak kecil. Itu yang membuatku bingung. Mungkin Ibu akan mengatakan jangan diambil pusing. Seandainya semudah itu, Ibu. Seandainya semudah itu..

Mungkin saat aku tidak berada di sekitar mereka, yang mengetahui umurku berapa, orang-orang akan melihatku seumuran dengan mereka. Dan menganggapku sepemikiran dengan mereka, jadi mereka akan menganggapku dewasa. Sehingga, aku juga akan tertular pemikiran-pemikiran mereka.

Saat aku menulis ini, aku teringat kisah Umar, yang ikut daam diskusi-diskusi tetuah-tetuah Suku Quraisy. Dia terbilang masih muda, tetapi dia menjadi wakil dari keturuan bapaknya, untuk mengikuti diskusi-diskusi itu, termasuk saat diskusi tentang sebutan apa yang pantas untuk Nabi Muhammad, yang saat itu mulai dibenci oleh kaum Quraisy. Pemikiran-pemikiran Umar realistis dan logis. Pernyataan-pernyataannya banyak diterima oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy. Beliau lebih banyak diam, dan hanya berbicara saat diminta bertukar pikiran. Mungkin aku harus mencontoh darinya. Air beriak tanda dangkal, sedangkan air tenang bertanda dalam. Haruskah aku menjadi Umar? Umar yang terlihat kejam tetapi lembut? Terlihat tidak tahu apa-apa namun ternyata pintar? Apakah itu dewasa sebenarnya? Apakah orang dewasa selalu bertingkah sok berkuasa dengan anak kecil? Jika orang dewasa ini orang berpendidikan, seharusnya mereka tahu bukan caranya untuk membentuk karakter dewasa pada anak remaja dengan tidak menyebutnya anak kecil? Seperti halnya, Ibu diminta untuk Jangan membayangkan gajah! dan nyatanya Ibu membayangkan gajah dalam pikiran Ibu.

Pasti Ibu memintaku untuk menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri seperti menurut Ibu? Aku gampang sekali menirukan gaya orang, tetapi dalam waktu singkat. Terkadang aku ingin membentuk diriku sendiri. Aku harus seperti ini : jujur, rapih, bersih, bertingkah laku manis di depan semua orang, sedikit berbicara dengan tetap menjaga senyum. Sampai-sampai aku ingin merumuskan diriku akan memiliki watak seperti itu. Betulkah jika aku melakukan itu? Atau aku tetap menjadi orang yang fleksibel, yang semaunya?

 

Bandung, 03 January 2014

 

Gadis yang sedang mencari arti Dewasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s