Saat Matematika Menjadi Seorang teman

Image
Aku ingat betul saat aku kecil aku tidak memiliki teman karena kenakalanku, makanya aku memilih membaca buku cerita sebanyaknya. Menonton film animasi, kartun, dll. Lagipula, saudara-saudaku lebih banyak laki-laki, dan kakakku melarangku bermain dengan teman-temannya. Sedangkan waktu itu, anak perempuan tetangga-tetangga masih kecil-kecil, dan bisa dibilang masih bayi. Aku yang tak memiliki teman memilih untuk belajar membaca, dan mulai membaca apapun yang ada disekitarnya. Apapun. Ayah dan Ibu yang pekerja keras tetap saja mengontrolnya meskipun tak seperti yang diinginkan. Terkadang Aku melakukan sesuatu yang membuat mereka kesal untuk menarik perhatian mereka. Mereka bekerja sangat keras untuk memenuhi kebutuhan kami.
Saudara-saudaraku yang sudah cukup besar waktu itu, maksudnya sudah sekolah, karena waktu itu aku, abangku, dan saudara-saudaraku yang seumuran denganku masih belum sekolah, mengetahui aku suka membaca. Salah satu dari saudara Bapak memberiku buku Matematika SD kelas 1. Warnanya hijau, ukuran A5. Aku ingat betul. Saat itu aku berumur sekitar 4 tahunan. Dan sekarang bukunya suda tidak ad. ku hanya diberi kunci, penjumlahan itu bertambah banyak jarinya yang muncul, sedangkan jika pengurangan bertambah sedikit jarinya yang ada.  Tergantung berapa banyak yang dijumlahkan dan berapa banyak yang dikurangi. Dengan cepat aku mengerjakan soal-soal Matematika dalam buku itu. Habis, diberi lagi, habis, diberi lagi buku Matematika yag baru. Sampai-sampai aku mengerjakan buku Matematika untuk kelas 3. Tetapi hanya persoalan penjumlahan dan pengurangan saja. Perkalian dan pembagian tidak diberikan oleh Tante yang dari Bapak itu. Meskipun tidak ada teman, tetap saja aku asyik dengan pekerjaanku, yaitu memecahkan soal-soal Matematika. Dan jika aku tidak mengerti, aku tinggal memanggil salah satu saudaraku yang sudah bersekolah untuk menerangkanku apa maksud dari soal. Dengan matematika, aku tak merasa bosan.
Aku dengan cepat memahami semuanya, orang-orang sekitarku memujiku dengan kata ‘pintar’. Saat aku berumur 5 tahun dan abangku 6 tahun, sudah saatnya Abang masuk SD. Sedangkan aku.. orang tuaku menginginkan aku masuk SD saja, karena aku sudah bisa menghitung, membaca,  dan menulis. Tetapi, saudaraku yang sedang kuliah Pend. bahasa Inggris saat itu, menganjurkan aku dimaksudkan TK saja, meskipun aku sudah bisa menghitung, membaca,  dan menulis. Takut akunya kaget dengan anak SD, toh bukan waktunya aku masuk SD.
Akhirnya aku masuk TK dan apa yang terjadi? Aku BOSAN. Aku bosan dengan pelajaran-pelajaran di TK. Aku sudah mempelajari semuanya. Semunay. Lagu-lagu itu, aku sudah tau. Aku ingin lagu-lagu anak yang lain. Tetapi tetap saja lagu lagu itu yang dinyanyikan, pelajaran bahasa Inggris itu.. sudah aku pelajari seja aku umur 3,5 tahun. Aku BOSAN dan memilih untuk tidak masuk TK, aku seringkali bolos, dan setiap orang bertanya kenapa aku ga masuk sekolah, aku hanya menjawab dengan kata “BOSAN”. Dan mulai berandai-andai, coba aja waktu itu aku masuk SD, mungkin aku tak akan sebosan ini.
Saudara-saudaraku yang sudah bersekolah, sedang kuliah, dan bekerja tetap rutin memberikan aku buku. Biasanya anak perempuan kecil meminta boneka, aku bosan dengan boneka. Dan boneka menurutku tidak ada gunanya, hanya dilihat saja. Tidak bisa diapaapakan. Lebih mending buku yang bisa dibaca dan kita bisa membayangkan isi buku. Imajinasi kita bisa terlatih. Meskipun jarang masuk TK, aku tetap belajar, Tanteku setiap kali datang ke rumah selalu kutagih untuk memberiku soal-soal matematika. Aku semangat sekali. Saat itulah aku sadar aku sangat mencintai ilmu logika ini. Ingin mengetahuinya lagi, lagi dan lagi.
Iklan

4 respons untuk ‘Saat Matematika Menjadi Seorang teman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s