0

Ada Apa dengan Pendidikan di Singapura?

DqJPogTWoAAiUNY

Terjemahan dari: https://wef.ch/2ISnQtA

Hasil PISA 2016 anak-anak Singapura jauh, bahkan terlampau jauh dibandingkan anak-anak seusia mereka di seluruh belahan dunia. Faktor apa yang mempengaruhi hasil PISA di Singapura?

PISA merupakan program penilaian literasi membaca, matematika, dan sains siswa berumur 15 tahun dari hampir seluruh negara di dunia, termasuk Singapura. Biasanya, hasil PISA ini menjadi salah satu bahan pertimbangan evaluasi sistem pendidikan di dunia. Indonesia juga melakukan perubahan kurikulum menjadi kurikulum 2013 karena hasil PISA tahun 2012 (see here). Baca lebih lanjut

Iklan
0

Murid-muridku Kelas X MIPA 3 2018/2019

Terima kasih…

Kepada Boris atau Mikail Harits kelas X MIPA 3, telah memiliki hati yang baik, rendah hati, dan selalu bisa diandalkan dalam hal pertemanan. Terima kasih telah memiliki hati yang hangat yang bisa mendekatkan diri pada orang dengan karakter apapun, Ibu bangga memiliki murid sekaligus Ketua Kelas yang memiliki rasa pertemanan yang hebat seperti Boris. Salah satu kejadian yang Ibu ingat tentang Boris adalah ketika Boris mendekati dan belajar bersama dengan Robert, murid paling pendiam di kelas dimana di kelas itu laki-lakinya bringas atau ga bisa diem semua. Hahahahaha. Ibu terkadang kesulitan untuk mengatasi anak pendiam seperti Robert, atau mencari tau kesulitan dia selama belajar. Tapi hari itu Robert sepertinya sedikit down karena cara yang Ia gunakan untuk menyelesaikan suatu soal kurang tepat. Alhamdulillah ada Boris yang bisa mendekati Robert dan belajar dengannya pada hari itu. Setelah itu Robert terlihat ceria kembali. Terima kasih banyak telah membantu Ibu. Semoga Boris tetap menjadi pribadi yang baik seterusnya ^_^

Kepada Salman atau Muhammad Salman Satria Agung, yang telah membantu Ibu mentransferkan ilmu-ilmu matematika kepada teman-teman sekelasnya. Tidak hanya matematika, waktu itu Ibu juga memperhatikan Salman membantu teman-temannya belajar Fisika sebelum ulangan. Ibu percaya bahwa jika Salman terus menerus melakukan hal itu, tidak hanya membantu teman-teman mudah memahami, namun Salman juga akan memahami dan mengingat Ilmu tersebut lebih lama. Terima kasih banyak. Semoga ilmu Salman barokah ^_^

Kepada Faishal atau Ahmad Faishal, telah menjadi pribadi yang jujur, sopan, dan santun. Ibu selalu percaya bahwa anak-anak seperti Faishal akan tumbuh menjadi orang yang hebat dan bisa diandalkan oleh orang banyak. Terus belajar agama sesuai keinginanmu ya, Ical! Semoga di masa mendatang Ical bisa berguna untuk orang banyak.

Nanti dilanjutkan lagi ya ^_^

Kutipan
0

Pagi di hari Minggu ini diawali dengan privat Fira, anak kelas 9 SMP yang memiliki semangat tempur luar biasa dalam belajar. Jam 8 kurang 10 aku sudah sampai di rumahnya. Kami mendiskusikan tentang persamaan kuadrat dan bagaimana cara mencari persamaan kuadrat baru. Dia mau ulangan harian hari senin. Jam setengah 10 aku sudahi pertemuan hari ini.

Lalu aku lanjut ke KFC Sukawangi menemani Marsha dan Nanay belajar Transformasi Geometri untuk ulangan harian besok.

Kegiatan ini belum selesai. Nanti jam 2 dilanjutkan dengan rapat MPFest oleh GPYI di Balkot. Wohoo.

Jam 5 ada privat sama Zaki. Emejing emang kegiatanku akhir akhir ini. Tapi tetap saja.

Berhenti bukan pilihan. Belum saatnya. Memang keinginanku untuk memiliki kegiatan sepadat ini.

0

Happy Snow Bingsu | Untuk Kalian yang Suka Es Krim

Selamat malam, pembaca! Kali ini penulis akan memberikan review mengenai Restoran Korea yang terkenal dengan Es Krim khas Korea-nya, yaitu Happy Snow Bingsu. Happy Snow Bingsu berada di Jl Aria Jipang No 1 Citarum Bandung.

Aku kesana bareng temenku, Retno. Dia yang paling semangat nyobain makanan atau minuman baru. Wkwkwk. Oh iya, Happy Snow satu tempat dengan tempat makan lainnya, seperti bakso, cafe, dll.

Happy Snow Bingsu 2

Bagian Parkiran

Baca lebih lanjut

0

Random Post | I’m Being Fanatic Because My Friends

Akhir-akhir ini, banyak yang membicarakan soal Ust Hanan Attaki. Aku taunya beliau Ustad yang ceramahnya sering didenger oleh temen-temenku. Bukan aku. Aku lebih suka ikut pengajian kitab kuning dibandingkan mendengar ceramah. Hehehe. Maapkan saya!

Saya dari pesantren modern yang letaknya di kaki Gunung Welirang, Mojokerto. Meski tidak sampai menjadi orang yang bisa membuat fatwa, aku sedikit tau tentang agama Islam. Ga terlalu banyak. Cukup untuk dipakai sehari-hari pokonya hehe.

Balik ke topik. Jadi lima tahunan ke belakang banyak da’i da’i baru yang muncul, seperti contohnya Ust Hanan Attaki dan Ust Felix Siauw. Awalnya sih saya suka dengan Felix Siauw, bukunya bagus sekali, gampang dipahami, yang judulnya “Putusin Aja”. Kalau Ust Hanan Attaki saya taunya beliau menggunakan bahasa gaul untuk mendekati manusia-manusia milenial. Tapi akhir-akhir ini Ust Hanan kena hujatan karena salah penggunaan katanya terhadap Nabi Musa yang menurut dia itu adalah metode pendekatan untuk manusia-manusia milenial. Padahal, untuk menceritakan sejarah dan ajaran Islam kita tetap harus berhati-hati karena rata-rata rujukannya dari Bahasa Arab. Kita harus berhati-hati dalam mengkomunikasikan dan menceritakannya kembali. Terutama dalam pengambilan kosa kata. Bisa jadi kosa kata non formal yang Ust tsb gunakan menjadi miskonsepsi yang akhirnya berubah arti sejarahnya. Lumayan viral akhir-akhir ini.

Tapi, saya mulai tidak sepaham dengan Felix sejak dia bilang tentang Ibu yang bekerja, intinya sih kata dia apakah masih bisa disebut Ibu. Saya nangis waktu itu. Saya membayangkan Ibu-ibu yang ditinggalkan oleh suaminya sehingga harus bekerja demi bisa menafkahi anak-anaknya, Ibu-ibu janda yang membesarkan anak-anaknya sendirian. Kemudian dia juga berpihak pada Khilafah. Setelah itu saya berpikir, “Baiklah kita tidak sepaham tentang Islam.” Ketika itu, tempatku menimba ilmu perkuliahan, banyak yang pro dengan sistem Khilafah ini. Aku, ketika itu sangat remaja, memilih untuk menutup diri dari segala kajian islam.

Menurutku, ajaran Islam disekelilingku tidak sepaham dengan apa yang aku percayai selama ini. Aku memilih untuk tidak berbicara mengenai agama meskipun banyak orang yang tau aku dari pesantren kala itu. Mengapa aku memilih diam? Aku tidak hafal referensi-referensi yang aku terapkan sehari-hari! Banyak sekali aku baca postingan-postingan teman-temanku balik ke Alquran dan Hadits. Padahal Alquran dan Hadits itu terlalu abstrak menurutku. Tidak bisa semerta-merta diartikan secara bahasa Indonesia yang memiliki kosakata terbatas untuk mencerminkan kalimat dalam bahasa Arab. Bahkan ada yang mengartikan Alquran langsung dengan tafsirnya sendiri. “Sehebat apa dirimu?” batinku.

Dalam matematika saja, ada bagian analisisnya untuk suatu teorema tertentu dan membutuhkan waktu yang lama. Membutuhkan beberapa teori juga untuk memahami suatu teorema. Lalu, Kenapa orang-orang ini dengan gampangnya menganalisis isi Alquran jika rujukannya yaitu hanya ‘teorema’ atau Alquran itu sendiri?? Apakah mereka menganut semacam pemahaman “Kebenaran hanya pada diriku”?

Disamping itu, ketika S1 aku menolak mengikuti organisasi Islam tertentu, meski ada yang dari satu golongan dari pesantrenku. Tapi banyaknya orang-orang yang masuk organisasi Islam itu cenderung fanatik. Aku tidak suka menjadi fanatik. Sama sekali tidak suka. Hal itu membuat seseorang menganggap golongannya dia sendiri yang benar. Yang lain tidak. Akui saja!

Aku sangat menghargai perbedaan pendapat, bahkan aku bertanya kepada orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda denganku mengenai fiqh atau ajaran Islam lain. Hanya ingin tau referensi apa yang digunakan untuk berpendapat seperti itu. Hanya ingin tau saja agar dapat saling menghargai. Maka dari itu, aku sering membaca suatu artikel dari penulis yang tidak suka dengan yang suka pada suatu hal. Hehehe

Akan tetapi, makin lama, aku makin kenal banyak orang baru yang fanatik terhadap golongannya. Merasa paling benar. Padahal kebenaran paling mutlak hanya milik Allah. Aku semakin panas dengan teman-teman yang aku kenal saat ini. Mereka semakin fanatik terhadap golongannya sendiri, sampai-sampai ada yang menulis ‘goblok’ yang ditujukan pada golongan yang bertentangan dengan pendapatnya. Aku tidak tahan.

Setelah berpikir rada lama, aku beneran berpikir rada lama tentang hal ini. Aku pikir menghargai pendapat mereka saja tidak cukup, aku perlu menunjukkan ajaran Islam yang aku anut juga. Aku harus berani menunjukkan juga pendapatku tentang apa yang aku pahami tentang Islam. Selama ini aku menghindar hanya untuk menciptakan perdamaian dalam diriku sendiri juga lingkungan sosialku. Padahal sebenarnya, diskusi sampe nggerutu juga gapapa sekali-kali. Hahahaha.

Aku ikut-ikutan menjadi fanatik seperti mereka. Fanatik terhadap golongan Islam yang dianut oleh pesantrenku dulu. Salah satu alasannya adalah, rujukan mereka tentang suatu kajian sebanyak pendapatnya. Seimbang. Aku suka hal-hal berbau akademis, yang rujukannya jelas, pengarangnya siapa. Alquran dan Hadits memang rujukan utama. Tapi untuk memahami rujukan utama, kita perlu buku-buku dan rujukan-rujukan lain, kan? Kalian pahamlah kalo udah skripsian. (sarcastic, hahaha)

Nah mungkin salah satu kenapa aku jarang dengerin video-video ceramah di IG itu adalah banyak yang lebih menggunakan pendapatnya dibandingkan rujukan-rujukan yang ia gunakan. Biasalah, anak akademisi emang suka nanyain referensinya ye kan?. Akhirnya aku lebih suka baca thread dari twitter yang biasanya para ustadz dan kiyai lebih banyak menyampaikan ceramahnya disana. Mereka juga menyebutkan kitab-kitab yang dijadikan referensi. Sesuai seleraku banget.

Perbedaan pendapat itu biasa kan ya? Aku juga tau itu dan sangat menghargai perbedaan pendapat. Tapi kalau sampai menghardik, mencaci, dan mengejek orang yang aku tau dia lebih banyak memiliki Ilmu dibandingkan orang yang menghardiknya, rasanya udah kayak hatimu dicabik-cabik. Maksudku, “Sehebat apa? Sehebat apa anda? Bukannya anda baru belajar?” pikirku begitu. Aku ikut-ikutan panas kan jadinya.

I’ll be okay if we have different opinions, as long as we can appreciate every opinions.

But if other say bad things to people I know they have a lot of knowledge, like a Master, How could I can stand and act nothing happen?

Good Afternoon,

Writer.

Kutipan
0

Bersyukurlah dari hal yg mudah dirasakan sehari hari
1. punya teman yg mau menemanimu, atau setidaknya mau mendengarkan semua keluhanmu tentang dunia ini, meskipun dia tak selalu bersamamu setiap saat.
2. punya orang2 yang mau mengingatkanmu tentang hal hal kecil, sekedar ingin memberi tahu saja, makin hari makin banyak orang yang tidak peduli. jadi bersyukurlah jika ada yang mengingatkan untuk menjadi lebih baik, itu artinya dia peduli denganmu.
3. bersyukur masih bernafas. artinya masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik setiap waktunya. dibandingkan melakukan hal yang terbaik, yang kita tidak tau bentuknya seperti apa, better is better than the best. kita bisa memulainya dengan memperkecil jumlah kesalahan kesalahan yg kita lakukan selama ini.
itu saja pengantar tidur malam ini.
oyasuminasai~