Kutipan
0

Terkadang orang yang sedang mengelus pundak orang lain, sedang menepuk pundaknya sendiri.

-Faliqul J. Firdausi, 20122017-

Iklan
0

Kuliah Metode Kualitatif dengan Prof Wahyudin

Hari ini adalah hari terakhir kuliah Metode Penelitian Kualitatif pada Pendidikan Matematika dengan Prof Wahyudin. Beberapa mahasiswa memanggil seorang dosen dengan panggilang “Prof” bagi yang sudah menyandang gelar Profesor. Namun, kami tetap memanggil Pak Wahyudin dengan sebutan Bapak. Mungkin karena kita menganggap beliau seperti Bapak kami di dunia akademik ini. Selanjutnya saya akan menggunakan sebutan Pak Wahyudin pada tulisan ini.

Perkuliahan dengan Bapak benar-benar recommended. Meskipun sistem perkuliahannya adalah presentasi perorangan, Bapak tidak menuntut kita harus memahami semua materi. Setiap orang yang tampil akan diberi materi yang berbeda dan nanti kita akan mendiskusikannya bersama-sama dengan Bapak. Terkadang, Bapak memberikan masukan, referensi, dan perbaikan. Referensi-referensi dari beliau terkadang adalah buku-buku atau artikel-artikel yang jarang kita temui dan itu sangat bagus. Nah kita sebagai mahasiswa S2 sekaligus peneliti muda sangat butuh banyak referensi untuk mendukung penelitian kita atau bahan untuk perkuliahan.

Di perkuliahan ini, penulis sebagai KM (Ketua Murid). Bagian yang bawa presensi, tanda tangan presensi dan dikembalikan ke tempat semula. Kalau di Sekolah Pascasarjana UPI, tempat pengembalian presensi ada di Gedung SPs Lantai 3, ruangannya di depan lift, yang ada tulisan Doctor by Research-nya.

IMG_20171219_104112

IMG_20171219_104105

IMG_20171219_104118

Selesai sudah tugas penulis sebagai KM pada semester 1 ini. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah banyak membantu, terima kasih sudah berbagi ilmu pengetahuannya di kelas ini. Sampai jumpa di Semester depan ^_^

 

Kuliah dengan Prof Wahyudin

dari kiri ke kanan: Cyntia, Ghaida, Penulis, Prof Wahyudin, Yusuf, Charity, Widya, Maya

 

0

Kuliah Landasan Pedagogik dengan Prof Uman

Banyak hal yang terjadi pada hari Jumat kemarin itu. Pukul 13.00 saya harus ke tempat Bimbel untuk mengikuti UKG (Ujian Kompetensi Guru) hingga pukul 14.36. Kemudian saya langsung meluncur ke Kampus UPI tercinta, tepatnya di FPMIPA-B ruang B108.

Saya sampai di depan ruangan pukul 15.06, dimana Bapak sudah duduk manis sambil mengabsen mahasiswa. Deg-degan takut dimarahi segala macem, takut diusir, takut ga boleh masuk kuliah beliau lagi 😥

Ditambah lagi posisi pintu masuk sekaligus pintu keluar itu berada di bagian depan kelas.  :’)

Saya mencoba berkomunikasi dengan teman yang paling dekat dengan pintu. Aku masih boleh masuk ga? tanyaku. Mereka memberi syarat dengan menggerakkan tangan mereka agar aku masuk.

Akhirnya aku masuk ke dalam ruangan sambil menyapa Bapak. Untungnya, masih ada kursi kosong :’)

Aku duduk sambil menunggu namaku dipanggil. Setelah itu, Bapak memberikan banyak pesan moral. Seperti sikap, pengetahuan, pola pikir, dan perbuatan harus linier harus linier.

Contohnya, Kiai, kiai itu adalah contoh seorang manusia yang pengetahuan, sikap, dan perbuatannya linier. Linier itu tidak melulu soal pengetahuan.

Peraturan bahwa untuk menjadi Dosen itu harus linier, tidak hanya berlaku pengetahuannya harus mendalam. Tapi perbuatan, sikap, dan pengetahuannya harus linier juga. Yang membedakan orang yang bergelar dan tidak bergelar pendidikan adalah pola pikirnya.

“Jangan mengatakan apa yang tidak kamu lakukan. ” kata Bapak seperti itu.

Selain itu, Guru atau Doesen juga harus memperhatikan penampilan. Cara berpakaian misalnya. Ketika Bapak menyinggung tentang pakaian, Bapak mengomentari teman sebelahku, “Kayak dia, kerudung coklat tua dengan (baju) coklat muda. Kalo kamu (mengarah ke aku), emang cocok kerudung abu-abu sama baju putih biru?”

“Iya Pak? Cocok cocok aja Pak.” sambil cengar cengir. Bapak, saya memang orangnya ngasal kalo milih baju. Namun sejak menjadi Guru, saya sudah dan sedang berusaha mencocokkan warna baju-kerudung-dan rok saya setia pergi ke sekolah. 🙂

Salah satu hal yang sangat saya sukai dengan Pak Uman adalah Bapak orangnya humoris sekali. Selalu ada saja celoteh celoteh humoris yang bapak sampaikan sehingga audiens selalu antusias menjadi pendengar beliau.

Kata Bapak, kita tetap harus memperhatikan siapa pendengar kita. Bedakan bentuk humor saat kepada Mahasiswa S2 dan kepada Dosen atau Kyai. Karena apa yang kita ucapkan mencerminkan pengetahuan dan pola pikir kita. Bahkan menurutku, apa yang kita ucapkan akan membawa nama baik kita sendiri.

Terkadang, Baiknya kita di depan orang akan membawa banyak nama. Nama tempat kita belajar, nama guru kita, dan nama orang tua kita. Dan berlaku juga sebaliknya.

Banyak hal yang diperoleh ketika kuliah dengan Bapak. Kuliah dengan beliau tidak hanya belajar bagaimana menjadi guru atau dosen yang baik, melainkan juga bagaimana menjadi manusia yang berperilaku manusiawi.

Terima kasih, Pak. Semoga Bapak dan Keluarga sehat selalu. Amiiin. ^_^

0

Sia-sia

Karya: Chairil Anwal

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Februari 1943

0

Dari Guru Matematika untuk Anak SMA di Indonesia : Belajar yang Efektif

Saya adalah guru matematika SMA yang baru saja lulus tahun lalu dari tingkat Strata 1. Saya percaya bahwa remaja Indonesia sangat tidak bisa lepas dengan smartphonenya. Pada bulan pertama saya mengajar, saya menggunakan beberapa peraturan teman saya, yang lebih dulu menghadapi anak-anak SMA di Kota Bandung ini, dalam penggunaan telepon pintar ini. Saya memperbolehkan anak menggunakan hp mereka selama di dalam kelas hanya untuk mendengarkan musik dan kalkulator. Jika ada yang menggunakan hp dalam kelas selain itu, saya akan mengambilnya dan diserahkan pada wali kelas mereka. Mengapa saya meggunakan peraturan keras dalam penggunaan hp? Agar mereka bisa lebih konsentrasi selama pelajaran dan mengetahui saya berusaha keras untuk membuat mereka memahami dengan pelajaran yang hampir semua murid mengatakan ini susah!

Selain menjadi Guru Matematika di sekolah, saya juga merupakan guru di suatu bimbel dan guru privat. Selama saya menjadi guru di luar sekolah itu, banyak sekali murid berkeluh kesah tentang gurunya di sekolah. Beberapa tipe guru yang disebutkan oleh anak-anak yang les atau privat adalah sebagai berikut:

  1. Guru tidak menjelaskan, beliau hanya menyuruh kita menyelesaikan soal. Kemudian pergi entah kemana.
  2. Guru menjelaskan tapi dia tidak bisa membuat kita paham. Dia berbicara memutar-mutar.
  3. Soal yang diberikan adalah soal yang tidak sama dengan yang dijelaskan (contoh).
  4. Guru terlalu banyak memberikan tugas kepada kami.

Beberapa letak permasalahan anak-anak yang mengikuti kelas tambahan di luar jam sekolah adalah pada anak-anak tersebut.

  1. Anak-anak tersebut tidak konsentrasi di dalam kelas. Dia sibuk memainkan smartphonenya.
  2. Anak-anak tersebut suka mengobrol dengan temannya dibandingkan mendengarkan guru yang sedang menjelaskan di depan kelas.
  3. Mereka tidak peduli dengan apapun.

Setelah saya melakukan pengamatan tidak formal ini, saya membuat kesimpulan bahwa:

Cara belajar matematika di sekolah yang efektif adalah siswa harus dalam keadaan fokus ketika di dalam kelas. Guru juga harus tetap mengawasi apakah setiap kepala di dalam kelas dalam keadaan fokus atau tidak.

Jadi bagi kalian para pelajar, cobalah untuk konsentrasi penuh minimal selama setengah jam di dalam kelas, terutama ketika guru menjelaskan. Hpmu tak kan membantumu konsentrasi. Matikan hpmu sebentar. Jika perlu, ajak temanmu ikut berkonsentrasi dalam pelajaran. Jika tidak mengerti, bertanya! Tak perlu takut. Kalian murid yang punya hak untuk minta ilmu pada guru kalian! Manfaatkan guru di sekolah selama kalian bertemu dengan mereka!

Hal itu akan lebih baik dibandingkan kalian harus belajar lagi di kelas tambahan di luar jam sekolah, itu akan membuang-buang uang dan waktu luang kalian bersama teman-teman. Kalian pasti pengen maen sama temen-temen kalian kan? Jadi cobalah lebih fokus dan konsentrasi ketika belajar di dalam kelas.

Buatlah mindset seperti ini: Aku murid. Aku harus paham ilmu yg diajarkan di dalam kelas. Aku ga mau les. Aku pengen jalan-jalan sehabis sekolah sama temen-temen. Jadi aku harus bener-bener paham apa yg diajarin di sekolah supaya mama sama papa ga nyuruh aku les matematika. 

Jika kamu tidak suka belajar matematika, ingatlah akan hal bahwa: Kalo kamu ingin kuliah, ada tes masuk universitas berupa tes matematika.

Jadi mau tidak mau, kamu harus mempelajarinya.

Cara ini saya gunakan ketika menjadi murid akselerasi ketika saya SMP dan SMA. Beberapa teman saya juga melakukan hal ini, “memanfaatkan guru di sekolah”. Solusi jika 75% siswa sudah dalam keadaan tidak konsentrasi, guru akan memberikan waktu untuk siswa agar tidur atau istirahat di dalam kelas selama 10-15 menit. Cara ini cukup efektif untuk membuat kami “para murid” untuk kembali konsentrasi dalam pelajaran setelah istirahat tersebut.

Ternyata cara ini juga digunakan oleh Finlandia. Sekolah Finlandia, khususnya pada pendidikan dasar, memberikan istirahat 15 menit setiap 1 jam pertemuan atau 45 menit. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menyegarkan otak setelah 45 menit menerima pelajaran. Adanya istirahat berkali-kali dalam sehari membuat anak tampak lebih fokus dalam menerima pelajaran dan membuat hasil belajar mereka lebih baik. (Tim Walker, 2017)

Saya belum menerapkan istirahat “berkali-kali” ini dalam pelajaran saya. karena, sebelum menerapkan model ini. Saya harus memahami apakah ini akan cocok dengan sifat peserta didik saya di sekolah? Apakah ini akan efektif? Oleh karena itu, saya masih mempelajari dan membaca beberapa referensi serta mengamati tingkah laku peserta didik saya apakah istirahat di antara satu kali tatap muka akan efektif di kelas sekolah negeri yang rata-rata jumlah muridnya 30-35 dalam sekelas.

Mungkin pada bulan kedua saya akan mencoba metode “istirahat berkala” ini pada kelas saya. Lalu saya akan mengulas dan menulis hasil pengamatan saya di Blog ini.

Referensi
Walker, T.D. 2017. Mengajar seperti Findandia: 33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan. Jakarta: Gramedia.

2

Belajar IELTS di Kampung Inggris, Pare

Aku bakal nyeritain pengalaman aku selama belajar IELTS di Kampung Inggris Pare. Sebelum aku ke Pare, aku sempetin searching di Google dan mencari tempat kursus yang paling direkomendasikan untuk belajar IELTS. Beberapa diantaranya ada Elfast, Global (GE), TEST dan Webster.

Kemudian saya mencari tempat kosan yang lumayan nyaman buat belajar, nah di Pare itu ada dua macem tempat tinggal, (1) kos dan (2) camp. Kalo kosan itu lebih bebas, beberapa lebih murah daripada Camp, gaada aturan harus pake bahasa inggris, lebih individual. Kalo buat cewe, kosan paling recommended adalah BSK (Bale Seto Kemuning). Tempatnya bersih banget. Waktu bulan Oktober 2016, harganya 400rb/bulan. Kalo sekarang gatau berapa. Kalo Camp itu adalah tempat tinggal yang diharuskan ngobrol pake bahasa inggris. Ada yang 24 jam ada yang ngga. Terus ada hukumannya kalo ga pake bahasa inggris. Nah buat kalian yang pengen fasih speaking-nya, aku rekomendasikan tinggal di Camp. Ada juga yang tempat kursusan yang menyediakan Camp. Tapi ga semua tempat kursusan yang program campnya berjalan, maksudnya ada beberapa camp yang memperbolehkan siswanya pake bahasa Indonesia. Kan sama aja kayak kosan biasa. Hehehe. Kalo tempat kursusan yang menyediakan Camp dan program Campnya berjalan itu Global English. Sebenernya sih ga cuman Global English, tapi kata temen-temen aku yang di Pare, Camp di Global lumayan recommended. Kalo kamu pengen ngecamp tapi ambil coursenya di tempat lain, ada Cherry Camp dan Alfafa Camp yang lumayan banyak peminatnya di Pare. Kalo harga perbulannya, bisa ditanya di CP yang ada di website masing2. Bisa dicari di Google.

Nah bagi kalian yang baru pertama kali mau ke Pare, Belajar Bahasa Inggris itu ada tingkatannya.

Buat Grammar:

  1. Beginner, ini biasanya belajar susunan kata dan istilah-istilahnya, kayak noun, adjective, dll.
  2. Intermediate: udah mulai masuk tenses dan praktik penggunaannya
  3. Advance: omitting, collocation, dll. disini belajar peringkasan juga, belajar gimana buat kalimat yang efektif. udah mulai nulis dari satu paragraf hingga satu essai.

Tapi kadang beda beda sih istilah setiap tingkatan grammar di masing-masing tempat kursus. Akan lebih baik jika ngecek di websitenya masing-masing, kalo masih bingung bisa dichat lewat LINE atau WA. Atau kamu bisa datang langsung kesana.

Buat Pronunciation – Speaking:

Kalo menurut aku, untuk belajar speaking yang bagus tuh di camp. Sepengalaman aku ambil beberapa speaking course di Pare, pengaruhnya dalam lancar ngganya ngomong bahasa Inggris itu dikit. Tapi semenjak aku masuk Camp, speaking aku lumayan lancar. Hehehe. Tapi kalo kalian tetep pengen ambil speaking course berikut beberapa tempat kursus yang paling banyak diminati di Pare: Elfast, GE, Daffodils, Mr. Bob.

Buat Reading – Vocab:

Buat Skill yang satu ini, menurut aku kalian ga perlu ambil kursus. Karena yang kalian butuhin adalah perbanyakin vocab dan kesabaran (hohoho). Supaya skor reading kita naik, kita harus bener-bener ngerti apa yang dimaksud dalam sebuah teks. Karena itu kita perlu memperbanyak vocab! Gimana caranya??

  1. Baca Berita!
    Selama belajar bahasa Inggris kamu harus membiasakan diri dengan suasana segala Inggris. Gausah malu karena dibilang sok sokan Inggris. Malah Gausah malu buat belajar apapun, ok? Baca berita membuat kita terbiasa membaca bahasa formal dalam bahasa Inggris. Kita juga menemukan banyak variasi dalam satu kata, contoh: solve, tackle, find a solution, address, dan banyak lagi. Makin sering kita baca, makin banyak vocab yang kita ketahui. Beberapa aplikasi Berita yang sering aku baca adalah: The Guardian, BBC News, BBC Radio, CNN. Bisa dicari di PlayStore
  2. Gatau artinya? Buka Kamus atau Google!

Jangan malas-malas buka kamus atau Google. Kenapa google? Karena kadang Google lebih jelas artinya dibandingkan kamus hehe. Pernah tau artinya tapi lupa? Buka kamuslah buat mastiin! Hehhee. Daripada ragu, hahaha. Bahkan ada beberapa kata dalam bahasa Inggris yang ga bisa dijelasin dalam bahasa Indonesia, kalo dipaksain ke bahasa Indonesia malah jadi salah. Oleh karena itu, selain kalian perlu punya aplikasi kamus Ing-Ind, kamu juga perlu kamus Ing-Ing. Aplikasi kamus yang aku pake adalah: LINE DICT Ind-Eng, Merriam Webster, Kamus Collocation, sama KBBI.

  1. Apalin!

Ya! Kamu harus ngapalin vocabnya, kamu bisa pake cara kamu sendiri gimana ngapalin vocab. Ada yang harus pake ngebayangin bentuknya biar hapal, ada yang harus diulang sampe 20x, dan sebagainya. Kalo waktu aku belajar IELTS, aku disuruh tutor nulis semua vocab yang aku ga tau dari Cambridge IELTS 1 sampe 11. Setiap pertemuan, aku disuruh setoran apalan. Gimana? Mantep kan? Kalian bisa nyoba cara ini.

  1. Pake di Writing dan Speaking

Supaya kamu lebih mengerti pemakaian vocab yang baru kamu apalin, kamu bisa menggunakannya di Writing dan Speaking. Semakin banyak variasi kata yang kamu gunakan dalam Writing dan Speaking, semakin tinggi nilai Skor IELTS kamu. Bahkan jika kamu menggunakan uncommon word.

 

Buat Listening:

Ini tips dari tutor aku dan ampuh binggo! Setiap hari harus nonton tv series UK. Ga boleh ngga. Karena ini untuk pembiasaan dengan British Accent. Beberapa TV series yang pake logat British itu Sherlock Holmes, Games of Thrones, dan banyak lagi. Kalian bisa download di Google. Selain itu kalian juga bisa dengerin BBC Radio setiap hari buat latihan listening.

Selama aku disana, aku lebih menghabiskan waktu belajar sendiri sama Privat. Menurutku, Reading dan Listening skill bisa dipelajari sendiri. Sedangkan Writing dan Speaking membutuhkan seseorang yang ahli di bidang bahasa Inggris untuk mengoreksi kesalahan Grammar, Pronunciation, dan Collocation yang kita pakai. Karena itu aku mengambil kelas privat untuk Writing dan Speaking di Pare.

Semoga tulisan ini membantu.

Terimakasih ^_^